Sabtu, 25 Juni 2011

Peluh

Riwan kusmiadi

Seperti aku terduduk......
Di pohon yang tak berdaun dan mengering
Dahagaku pun hadir di ujung haus tak bertepi.
Seperti berjalan diantara fatamorgana dimusim yang panas,
kian hari kian nyata bermain dipelupuk mata,
kini ku reguk tetesan itu namun semu.
kurangkul ia mendekat seketika itu pun menjauh,
kusapa ia seraya menjawab lalu menghilang.
Tubuh bergetar dengan hasrat penuh peluh yang tak berganti.
dahagaku pun mengering.

Namun seketika itu engkau hadir.
Ku mensyukuri hadirnya dirimu dalam lautan hidupku,
tersentuh duri yang kau basuh dengan ketenangan hati,
berderai sedih ku yang kau usap rambutku dengan kasihmu.
Ternodanya wajahku yang kau bersihkan dengan embunmu.
Sungguh bahagia jika kau berada disini menghapus semua sakit yang kurasa.
seadainya kau tahu...
ku tak ingin kau jauh, seandainya kau tahu aku kan selalu cinta..

Karena kau tahu, waktu tak mungkin menunggu

Atiek Kusmiadi

Seperti matahari yang belum tentu terbit esok pagi, begitu juga hidup. Tak ada yang tahu sampai kapan kita bisa menapaki hari, sampai kapan kita bisa hidup dengan orang-orang yang kita cintai.
Bila hari ini kita masih diberi hidup, manfaatkan setiap detiknya untuk memberikan cinta. Mumpung lidah masih bisa bicara. Mumpung tangan masih bisa memeluk. Mumpung hidup masih bisa menyatu.
Pembaca, apa yang kukatakan ini adalah apa yang aku alami. Suatu waktu di dalam hidupku, aku pernah merasakan takutnya kehilangan. Ketakutan yang menyekap begitu erat hingga menimbulkan rasa sakit yang sangat. Saat itu, sungguh, tak ada tempat bergantung yang nyata.
Serangan jantung itu datang begitu saja. Tak ada hujan tak ada angin, tak ada tanda-tanda sebelumnya. Tiba-tiba saja suamiku merasakan nyeri di dada kirinya dan langsung hilang kesadaran. Kepanikan luar biasa membuatku tak mampu berpikir. Saat itu satu yang kutahu, aku tak ingin kehilangan dia.
Walaupun akhirnya tindakan medis dapat memulihkan kondisi suamiku, namun kejadian itu membawaku pada renungan mendalam. Suatu saat, kalaupun kehilangan itu nyata apakah aku akan sanggup menanggungnya? Aku tak bisa menjawab itu sekarang. Yang kutahu, setiap detik waktuku tak akan kusia-siakan. Tak akan kuisi waktu yang tersisa untuk selain cinta. Tak ada waktu untuk kebencian, perselisihan, karena ternyata waktu tak pernah berjalan lamban.
Hingga saat ini Pembaca, rasa sakit akan takut kehilangan itu masih sangat membekas. Sebuah pengalaman traumatik yang tak mungkin terlupakan begitu saja. Bahkan terkadang rasa itu masih mampu menyebabkan air mata.
Bukan, bukan aku tak mau menerima kehendak Tuhan. Namun ternyata makna keikhlasan tidak dapat dihayati hanya dengan diucapkan. Aku tidak mampu mengajari pembaca sekalian tentang makna keikhlasan. Karena hingga detik ini aku juga masih meraba dan belajar.

"Di sekian waktu yang tersisa dalam hidupku,
Bukan kesempurnaan yang kuinginkan,
Melainkan cukuplah hanya kebaikan.
Tak mungkin aku meminta waktu lebih
Ketika batas telah bersurat takdir
Kumohon jangan pernah kau bosan
Ketika kata cinta kutebar memenuhi setiap udara yang kau hirup
Karena kuingin mengatakannya selagi aku bisa
Karena kuingin kau mendengarnya selagi kau sempat
Karena kau tahu, waktu tak mungkin menunggu....."

Pembaca, jangan isi hari-hari kita untuk hal-hal yang menyakitkan. Jangan beri ruang untuk kesedihan muncul dalam keluarga kita. Karena seperti suamiku bilang, kebahagiaan adalah pilihan. Tentukan pilihan itu sekarang, atau waktu tidak akan mungkin memberikan kesempatan kita untuk mengulang. Jangan pernah jadikan hari ini menjadi sesal di esok hari. (*)